Friday, 5 July 2013

Korban Bencana, Korban Media


Ketika Media Mengorbankan Korban Bencana

Seperti yang kita ketahui, pada Selasa 2 Juli 2013 lalu, Gempa bumi berkekuatan 6,2 skala richter kembali mengguncang tanah Aceh. Aceh kembali berduka, dan dalam peristiwa tersebut media massa berkontribusi positif karena memberitakan suatu peristiwa penting secara aktual kepada masyarakat luas.
Keberadaan media memang sangat di butuhkan, oleh karenanya media tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat yang hidup di abad ke 20 ini. Melalui keberadaan media (massa), manusia yang memiliki keterbatasan jangkauan alat indra, dapat mengetahui lebih banyak hal di luar jangkauan ruang dan waktunya. Oleh karenanya, media pada dasarnya merupakan perpanjangan alat indra manusia. Radio yang sifatnya audio, merupakan perpanjangan dari indra pendengaran atau telinga, dan media cetak yang bersifat visual merupakan perpanjangan dari indra mata sebagai indra penglihatan. Kemudian munculnya televisi serta kecanggihan internet dengan sifatnya yang interaktif karena dapat menampilkan pesan berupa rangsangan audio dan visual sekaligus, semakin mengukuhkan posisi media sebagai perpanjangan indra manusia. Media di tuntut peka, kritis dan tanggap untuk memberitakan suatu kejadian penting, mulai dari acara seremonial, terlebih memberitakan peristiwa bencana.
Namun di samping berbagai kontribusi positif yang dirasakan oleh masyarakat berkat keberadaan media, media juga melakukan kerap melakukan kelalaian. Dalam tayangan berita di sebuah stasiun televisi swasta, kamis – 4 Juli 2013 kemarin, tampak seorang reporter yang bertugas meliput bencana di tanah Aceh pasca bencana Gempa bumi berkekuatan … skala richter yang kembali mengguncang Aceh sedang mewawancari seorang korban bencana. Sosok korban tersebut adalah seorang bapak, wawancara di lakukan dengan setting puing-puing bangunan yang sudah rata dengan tanah.
Dalam dialog wawancara tersebut, sang reporter menanyakan mengenai kronologis kejadian bencana gempa yang berlangsung di awasan tersebut. Si Bapak yang merupakan korban pun bersedia menceritakannya. Pada awalnya, pemaparan tersebut terkesan tenang. Lalu sampailah hingga si bapak tersebut mengatakan bahwa purtrinya menjadi korban, yaitu tertutupi oleh puing-puing bangunan rumahnya. Di saat demikian, si bapak korban tersebut langsung merasakan haru. Ia tidak kuasa menahan air matanya, sebagai ekpresi kesedihannya. Dan bapak tersebut mengatakan “sudah saya tidak kuasa menceritakannya lagi” dengan di selingi bahasa daerah Aceh. Tapi reporter yang mewawancarainya tersebut langsung mengganti topik pertanyaan. Dan lagi-lagi untuk pertanyaan yang di harapkan berupa deskripsi dari korban tersebut, korban kembali menyatakan kalau ia tidak lagi mampu berkata-kata. Sang Reporter lagi-lagi seakan tidak memperdulikan keadan psikologis orang yang sedang di wawancarainya tersebut.
Ketika melihat adegan dalam tayangan berita di layar kaca televisi tersebut, saya langsung teringat pada kriteria Dosa-dosa Media yang di paparkan seorang wartawan senior bernama Ahmad Arif dalam bukunnya yang berjudul “Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme”. Buku tersebut menceritakan mengenai sekelumit peristiwa jurnalisme pada bencana tsunami Aceh yang melanda 26 Desember 2006 lalu.
Berdasarkan pengalamannya, Ahmad Arif menuturkan bahwa suatu aktifitas jurnalistik yang tidak pada tempat dan porsinya justru dapat menimbulkan bencana di tengah bencana yang sedang terjadi. Bencana Jurnalisme tersebut di istilahkan Ahmad Arif dengan istilah Dosa Media. Dosa media dalam sebuah bencana, salah satunya yaitu seorang wartawan tidak jarang mencecar korban bencana yang berstatus sebagai sumber berita dengan berbondong pertanyaan-pertanyaan tanpa rasa empati terhadap korban yang jelas-jelas sedang berada dalam kesusahan dan kesedihan.
Lebih lanjut ia memaparkan pertanyaan kritis, atau bahkan jangan-jangan itulah pesan sang produser kepada sang reporter, yaitu mendesak agar narasumber sampai menangis, bahkan harus sampai meraung-raung demi untuk mengejar efek dramatis ?.
Selama ini, berita tanpa kesedihan dapat dikatakan sebagai “berita buruk” bagi para jurnalis. Sebaliknya, berita yang sarat dengan air mata dan darah, telah menjadi “berita baik” bagi para pelaku media karena tema tersebut dipercaya sangat laris dijual. Bad news is good news.
Kemudian Ahmad Arif mengajak pembaca untuk membaca lebih mendalam mengenai pengalamannya saat mencoba mengorek informasi dari  Nurleli, seorang korban tsunami Aceh yang harus mengalami cacat karena kakinya harus diamputasi. Saat itu Nurleli tidak ingin di wawancara, karena ia merasakan capek selalu di cecar dengan pertanyaan wartawan sementara hidupnya sendiri tidak banyak berubah.
Pengalamannya tersebut menyadarkan Ahmad Arief bahwa korban bencana bisa sekaligus menjadi korban media jika wartawan kehilangan rasa hormat kepada narasumbernya, dan hanya menganggap mereka sebagai objek peliputan semata.
Berdasarkan hal tersebut, kemudian dapat disimpulkan bahwa apa yang di tayangkan dalam pemberitaan sebuah stasiun televisi swasta 4 juli 2013, kemarin merupakan salah satu bentuk dosa media. Jangan sampai aktifitas jurnalistik menjadi bencana di tengah bencana.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment